Kamis, 14 Januari 2010

Upacara Tradisional Sebagai Wahana Persatuan dan Kesatuan Bangsa

I. PENDAHULUAN: UPACARA-UPACARA
Secara garis besar upacara dapat dibagi ke dalam beberapa macam, yaitu
(1) Upacara resmi, yang diselenggarakan di kantor-kantor dan lembaga-lembaga resmi pada hari-hari tertentu, seperti upacara di halaman kantor pada hari Senin.
(2) Upacara hari besar nasional, yang diselenggarakan oleh kantor-kantor dan lembaga-lembaga lain, pada hari-hari besar nasional.
(3) Upacara tradisional, yang diselenggarakan oleh pribadi atau keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Pada umumnya semua macam upacara bertujuan mulia, yaitu untuk wahana berkumpul dengan teratur, dengan agenda tertentu, menyatukan langkah, dalam ayunan kebersamaan, melalui kegiatan hidup yang suci, dan dijalankan secara khidmat. Akan tetapi setiap upacara mengandung makna dan tujuan khusus tertentu sesuai maksud penyelenggaraannya.
II. TRADISI BARU DAN LAMA
Semua macam upacara tersebut sudah menjadi tradisi bagi bangsa Indonesia dan bagi masyarakat Jawa Tengah pada khususnya. Upacara-upacara (1) (resmi) dan (2) (hari besar nasional) dapat disebut tradisi baru, yang berkembang sejak abad ke-20 dan pasca-kemerdekaan 1945, berkaitan dengan berkembangnya sistem pemerintahan, birokrasi, kelembagaan dan perkantoran pada berbagai tingkatan; sedangkan upacara (3) (tradisional) adalah tradisi (yang lebih) lama, berkembang sejak berabad-abad, berkaitan dengan sistem religi, agama dan kepercayaan.
Di Jawa Tengah upacara-upacara tradisi baru dan tradisi lama berkembang secara bersamaan, dan adakalanya saling bergabungan, yakni upacara tradisi lama bergabungan dengan tradisi baru dan dilaksanakan dalam satu kemasan penyelenggaraan. Dalam berbagai praktek dan tingkatan terdapat pembaharuan dan penafsiran baru terhadap upacara tradisi lama sehingga dalam pelaksanaannya membentuk tradisi yang (lebih) baru (lagi).

III. MAKNA DAN NILAI TRADISI: IDENTITAS BANGSA
Praktek demikian menunjukkan terjadinya dinamika dalam penyelenggaraan upacara sebagai buah dari interaksi, tanggap-menanggap antara pihak-pihak resmi (pemerintah) dan masyarakat, yang berbasis kepentingan dan pemberian makna dan nilai yang tinggi terhadap tradisi bersama, sebagai sesama peserta budaya.
Perkembangan dan realitas tersebut menunjukkan bahwa upacara sebagai kegiatan hidup manusia Jawa Tengah dan Indonesia dihargai sebagai kegiatan yang bermakna penting, bernilai tinggi dan mendalam. Pemberian makna penting, tinggi dan mendalam terhadap upacara sebagai kegiatan yang bernilai tradisi dapat berkembang antara lain oleh kesadaran akan pengalaman historis bersama sebagai bangsa atau suku bangsa yang membangun tradisi-tradisi yang pada gilirannya menjadi identitas atau jati diri bersama. Suatu bangsa yang besar antara lain ditandai dengan kemantapan identitasnya. Pemaknaan identitas dapat dilakukan dengan pemahaman sebagai berikut.
[1] Identitas yang berasal dari tradisi upacara baru (1 dan 2) bersumber dari kebangkitan dan perkembangan nasionalisme yang dibangun sejak pra-kemerdekaan sampai kemerdekaan dan pengisian kemerdekaan masa sekarang, dengan basis penghargaan terhadap praktek-praktek dan kegiatan bernilai kebangsaan dan patriotisme nasional dalam membangun masyarakat modern, yang ditandai dengan penyelenggaraan pemerintahan dan birokrasi modern. Upacara yang dilaksanakan juga berkaitan dengan maksud akan terbangunnya disiplin dan penghargaan terhadap penyelenggaraan praktek-praktek pengabdian dan pelayanan publik.
[2] Identitas yang berasal dari tradisi upacara lama (3) bersumber dari latar belakang historis mengenai tradisi ritual kehidupan, ritual keagamaan dan kepercayaan yang dialami dan dihayati masyarakat oleh (daerah-daerah di) Jawa Tengah dan sekitarnya. Upacara yang membangun identitas bermula dari praktek ritual dalam keluarga-keluarga dan masyarakat yang dimaksudkan untuk menyampaikan dan mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Penguasa Alam dan arwah leluhur, yang telah memberikan kesejahteraan kepada masyarakat petani dan pembudidaya (darat dan laut). Dalam tradisi Jawa, upacara demikian dimaksudkan untuk memayu hayuning bawana (menjaga keselarasan dunia).
Upacara tradisi lama semula bersifat lokal, kedaerahan, akan tetapi pada perkembangannya sekarang, tradisi-tradisi tersebut telah menjadi kebutuhan hampir semua daerah sehingga menjadi berskala nasional.
Adapun upacara tradisional yang dipraktekkan dan dihayati dalam keluarga-keluarga sebagian besar berupa upacara siklus hidup (life cycle) dari manusia pada masa berupa janin, kelahiran, bayi, remaja, dewasa, tua sampai meninggal dunia. Selametan dan bancakan merupakan wahana dari bangunan harmoni sosial yang dapat berkembang menjadi wahana persatuan dan kesatuan sosial.

IV. PENUTUP: WAHANA PERSATUAN DAN KESATUAN
Persatuan dan kesatuan bangsa dapat terbentuk lebih kokoh apabila bangsa tersebut menyadari, mengalami dan menghormati identitas bersama (shared identity). Identitas bersama masih dapat berkembang apabila unsur-unsur pembangunnya masih didukung oleh komunitas budayanya. Upacara-upacara resmi, hari besar nasional dan tradisional dapat menjadi wahana terselenggara dan berkembang kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa apabila masih didukung oleh para peserta budaya bangsa dengan mempraktekkannya untuk menumbuhkan-kembangkan
(1) penyampaian dan pengungkapkan rasa syukur yang tiada terhingga kepada Tuhan Yang Maha Kuasa;
(2) identitas komunitas dan identitas bangsa;
(3) nilai-nilai egaliter dan demokratis;
(4) kesadaran akan realitas dan dinamika multi-tradisi, multi-budaya;
(5) kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan bersama;
(6) kepedulian terhadap lingkungan alam, sosial dan budaya;
(7) aspirasi sosial-budaya bangsa;
(8) hiburan, rekreasi dan wisata yang sehat;
(9) modus dan materi yang disepakati bersama.

Semarang, 19 September 2005
NHK
*) SARASEHAN NILAI TRADISI, DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROPINSI JAWA TENGAH DI HOTEL KARTIKA WISATA , JL. RAYA SALATIGA-MAGELANG KM. 15 KOPENG, KAB SEMARANG.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar