Rabu, 13 Januari 2010

Metodologi Penelitian Partisipatif dalam Pemberdayaan Masyarakat



Kerangka Berpikir dan Strategi

 
Pada masa lalu, penyusunan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan menjadikan masyarakat sebagai obyek dan kurang terlibat dalam berbagai tahapan yang meliputi perumusan masalah, penyusunan rencana dan kebijaksanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan. Penyusunan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh perencana dan konsultan pembangunan dari luar. Akibatnya, perumusan masalah dan perencanaan pembangunan tidak sesuai dengan masalah nyata yang dihadapi masyarakat. Selain itu, mungkin perencanaan dan kebijakan yang disusun kurang dapat memecahkan masalah masyarakat. Dalam perencanaan dan kebijakan pelaksanaan, masyarakat diperlakukan sebagai pihak yang menerima, bukan partisipan, pelaksana dan pengawas, sehingga kebijakan tidak dipahami dan tidak dapat diterima oleh masyarakat.
Pendekatan demikian mendorong masyarakat untuk cenderung kurang mendukung, masa bodoh, dan mungkin menolaknya - sehingga sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Proyek dan program dengan pendekatan “berbasis komunitas” (community based approach) dan dengan konsekuensi paradigmatik “dengan partisipasi aktif masyarakat” dapat memanfaatkan Participatory Rural Appraisal/PRA. Pendekatan ini memerlukan peran aktif masyarakat dalam menyusun perencanaan di wilayahnya, sehingga kegiatan ini disebut perencanaan dan pelaksanaan pembangunan berbasis komunitas (community based development). Dalam hal ini peneliti atau konsultan berperan utama sebagai fasilitator atau pendamping atau narasumber, yang bersama-sama masyarakat merencanakan program-program.
Guru PRA adalah Robert Chambers (1983/1987, 1996) yang kerangka berpikir dan strateginya dijadikan sumber metodologis dan referensi dalam makalah ini.
II. Pergeseran Paradigmatik
Pergeseran paradigmatik dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan meliputi:
(a)    Dari pendekatan “atas ke bawah” (top-down approach) ke pendekatan “bawah ke atas” (bottom-up approach);
(b)   dari pendekatan “standardisasi terpusat” (centrally standardized approach) ke pendekatan “penganeka-ragaman setempat” (locally diversified approach);
(c)    dari pendekatan “cetak biru” (blue print approach) ke pendekatan “proses belajar” (learning process approach);
(d)   dari pendekatan “survei dengan kuesioner” (survey approach) ke pendekatan “analisis & pemahaman secara partisipatif” (participatory analysis & appraisal approach);
(e)    dari pendekatan “diambil oleh orang luar” (outsider/ethic approach) ke pendekatan “berbasis komunitas” (community based/emic approach).
Dalam pendekatan demikian, konsultan/peneliti/tenaga ahli berperan sebagai fasilitator atau pendamping atau paling banter narasumber, yang kemudian melimpahkan wewenang (handling over the stick), dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan, kepada masyarakat.
III. Kerangka Berpikir PRA
Participatory Rural Appraisal (PRA) dapat dipahami sebagai “pendekatan dan metode untuk mempelajari kondisi dan kehidupan pedesaan dari, dengan dan oleh masyarakat desa.” Secara lebih luas PRA tidak sekedar proses memahami, melainkan analisis, perencanaan dan tindakan. Secara metodologis, PRA juga digunakan untuk menerangkan ragam pendekatan, sehingga dapat dilihat sebagai “sekelompok pendekatan dan metode yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling berbagi, meningkatkan, dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan desa, membuat rencana dan bertindak” (lihat Chambers, 1996). Dengan pemahaman demikian, PRA mendudukkan masyarakat sebagai peneliti, perencana, pelaksana dan evaluator program pembangunan.
Peran konsultan, tenaga ahli, dan pendamping, kemudian lebih sebagai fasilitator yang secara bersama-sama mengidentifikasi dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan dan melaksanakan program-program, serta sekaligus mengawasi dan mengevaluasinya, dengan partisipasi aktif masyarakat melalui pertemuan-pertemuan dan pelatihan-pelatihan. Dengan pertemuan dan pelatihan diharapkan akan muncul kader dan aktivis kemasyarakatan yang akan menularkan kekaderannya kepada warga komunitas lainnya.
Kegiatan-kegiatan bersama melalui PRA, diharapkan akan merubah sikap masyarakat terhadap program-program yang diselenggarakan terutama untuk kepentingan mereka sendiri, dari sikap yang tidak peduli, dan bahkan menolak, menjadi sikap yang peduli dan bersedia menerima dengan kesadaran akan peningkatan harkatnya sebagai manusia, sehingga kualitas hidup dan kehidupan mereka pun meningkat secara bersama-sama.
III. 1. Sumber-Sumber PRA
PRA bersumber dari dan sejalan dengan metode-metode dalam:
(1)   Penelitian Partisipatif Radikal (activist participatory research), yakni kelompok pendekatan dan metode yang menggunakan dialog, keterlibatan aktif peneliti dalam meningkatkan kesadaran & kepercayaan masyarakat agar memiliki kekuatan untuk bertindak. Dua kelompok penelitian partisipatif yang saling berkaitan adalah
(a)    penelitian partisipatif (participatory research) dan
(b)   penelitian aksi partisipatif  (partisipatory action research).
Sumbangan penelitian partisipatif terhadap PRA lebih banyak melalui konsep daripada metode, dengan gagasan pokok dan penting, antara lain, bahwa
(a)    kaum miskin itu kreatif dan punya kemampuan, dapat dan harus lebih banyak melakukan penyelidikan, analisis dan perencanaan sendiri;
(b)   mereka yang terbuang punya peran sebagai anggota, katalis dan fasilitator; dan
(c)    yang lemah harus diberdayakan.
(2)   Analisis Agroekosistem (agroecosystem analysis), mendasarkan sistem dan pemikiran ekologis, mengkombinasikan analisis sistem dan sistem kepemilikan (produktivitas, stabilitas, keberlanjutan dan keadilan) dengan analisis pola keruangan (peta dan transek), waktu (kalender musim dan kecenderungan jangka panjang), aliran dan hubungan (arus, kausal, diagram Venn, dll.), nilai-nilai relatif (diagram batang dari sumber-sumber pendapatan relatif, dsb), dan keputusan (bagan keputusan, dll.). Dapat dikatakan, sumbangan analisis agroekosistem terhadap RRA dan PRA meliputi
(a)    transek/transect (berjalan-jalan untuk melakukan pengamatan secara sistematis);
(b)   pemetaan informal (membuat sketsa peta langsung di lokasi);
(c)    pembuatan diagram (kalender musim, arus dan diagram kausal, diagram batang, diagram Venn atau diagram “chapati”);
(d)   penilaian inovasi (pemberian nilai dan skala urutan kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda).
(3)   Antropologi Terapan. Ahli antropologi sosial membantu pengembangan keahlian yang lebih baik untuk meningkatkan kekayaan dan kesahihan pengetahuan masyarakat desa, dapat membedakan antara ethic dan emic. Bersama antropologi sosial terjadi adopsi penilaian etnografis secara cepat dengan ragam percakapan, pengamatan, wawancara informal dan kelompok perhatian. Sumbangan antropologi sosial terhadap PRA terutama dalam perluasan dan penerapan pemikiran mendalam, yakni:
(a)    gagasan bahwa belajar di lapangan merupakan seni yang luwes dan bukan ilmu pengetahuan yang kaku;
(b)   nilai hidup menetap di desa, pengamatan pelaku yang tidak tergesa-gesa dan percakapan;
(c)    arti penting sikap, tingkahlaku; dan hubungan;
(d)   perbedaan antara emic (pandangan dari dalam masyarakat) dan ethic (pandangan dari orang luar);
(e)    kesahihan pengetahuan teknis dan kearifan asli setempat (local knowledge dan local wisdom).
(4)   Penelitian Lapang tentang Sistem Usaha Tani (Pelsut), yang telah menunjukkan kompleksitas, kemajemukan dan rasionalitas praktik pertanian yang tampaknya tidak sistematis dan tidak teratur. Pelsut telah membuat sistematika metode untuk menyelidiki, memahami dan menentukan kompleksitas sistem usaha tani, tapi kadang harus berhenti karena jalannya survei yang lambat, membosankan dan perolehan data yang berlebihan. Sumbangan Pelsut pada PRA adalah dalam pemahaman tentang:
(a)    kompleksitas, keragaman dan kerentanan terhadap risiko berbagai sistem usaha tani;
(b)   pengetahuan, profesionalisme dan rasionalitas para petani kecil dan petani miskin;
(c)    pola pikir dan perilaku eksperimental petani;
(d)   kemampuan petani untuk melakukan analisis sendiri.
(5)   Memahami Desa Secara Cepat (Rapid Rural Appraisal/RRA), yang
merupakan usaha untuk mencari cara yang lebih baik bagi orang luar untuk memahami kehidupan dan kondisi pedesaan. Tiga asal usul RRA meliputi:
(a)    ketidakpuasan adanya bias, yakni bias keruangan (hanya mengunjungi desa yang dekat kota, dekat jalan besar, dekat pusat desa, tapi mengabaikan desa pinggiran); bias proyek (perhatian dan dukungan khusus kepada desa-desa wilayah proyek); bias personal (lebih sering menemui laki-laki daripada perempuan, elit daripada orang miskin, pengguna jasa daripada yang tidak); bias musim (berkunjung pada musim yang baik saja); bias diplomatik (tidak berharap bertemu atau menemukan orang miskin atau kondisi buruk);
(b)   kekecewaan terhadap proses survei konvensional dengan kuesioner dan hasilnya, yakni berlebihan, membosankan, memusingkan, proses dan penulisannya sebagai mimpi buruk, data tidak akurat, tidak dapat jadi acuan, laporan makan waktu lama, kadang terlambat, menyesatkan, sulit digunakan dan kadang malah diabaikan;
(c)    mencari metode-metode yang lebih efektif, dengan kesadaran terhadap fakta bahwa orang desa sendiri punya macam-macam pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan mereka (pengetahuan teknis asli, Indigenous Technical Knowledge/ITK), dengan kekayaan dan nilai untuk tujuan praktis: bagaimana memberdayakan ITK sebagai sumber informasi untuk analisis dan penggunaannya oleh para ahli dari luar.

III. 2. Perbandingan dan Prinsip-Prinsip RRA dan PRA
Dalam suatu proyek pembangunan kemasyarakatan, strategi, pendekatan, dan langkah-langkah yang dipilih dapat dilakukan secara berkesinambungan, antara RRA dan PRA. Agar pemilihan metodologis untuk melakukan pekerjaan perencanaan dan pelaksanaan lebih jelas, berikut ini disampaikan perbandingan dan prinsip-prinsip dalam RRA dan PRA.
Tabel 1 menunjukkan perbandingan unsur-unsur dan prinsip-prinsip kesinambungan antara RRA dan PRA.
Tabel 1: Perbandingan antara RRA dan PRA

RRA

PRA

(1)   Kurun perkemb
(2)   Pembaharu
(3)   Pengguna utama
(4)   Sumber informasi yg dilihat lebih dulu
(5)   Pembaharuan utama
(6)   Paling banyak
digunakan
(7)   Tujuan ideal

(8)   Hasil jangka
Panjang
(1)   Akhir 1970an-80an
(2)   Universitas
(3)   Lembaga donor, Univ.
(4)   Pengetahuan masyarakat setempat
(5)   Metode
(6)   Penggalian, elicitif

(7)   Belajar melalui orang luar

(8) Perencanaan, proyek,
publikasi
(1)   Akhir 1980an-90an
(2)   LSM
(3)   LSM, org lapang pem.
(4)   Kemampuan masyarakat setempat
(5)   Perilaku
(6)   Fasilitasi, partisipatif

(7)   Pemberdayaan
masyarakat setempat
Kelembagaan & tindakan masy setempat yg berkelanjutan
Prinsip-Prinsip Kesinambungan RRA dan PRA

Sifat Proses

Metode RRA
Metode PRA
(1)   Cara melakukan

(2)   Peran orang luar
(3)   Informasi dimiliki,
dianalisis dan digunakan
(1)   Penggalian, elicitif

(2)   Penyelidik/peneliti
(3)   Oleh orang luar
(1)   Saling berbagi,
Pemberdayaan
(2)   Fasilitator
(3)   Masyarakat setempat
Diolah dari Robert Chambers 1996: 30-33.
Pemanfaatan unsur-unsur dan prinsip-prinsip kesinambungan dalam RRA dan PRA harus mempertimbangkan tahapannya. Apabila yang dilakukan adalah pemahaman dan penyerapan aspirasi masyarakat, yang dilanjutkan dengan penyusunan perencanaan, kemudian pelaksanaan dan pengawasan pembangunan (oleh dan untuk masyarakat) maka strategi dan langkah-langkah dalam RRA dan PRA dapat dilaksanakan secara berkesinambungan. Namun demikian, harap dicatat, bahwa batas-batas pentahapan yang dilaksanakan ke dalam langkah-langkah seringkali kabur, tidak jelas. Prinsip-prinsip RRA dan PRA disajikan berikut ini.
III. 2. 1. Beberapa Prinsip dalam RRA dan PRA
(1)   Pembalikan pemahaman: belajar dari masyarakat desa, secara langsung, di daerah pinggiran (pantai) atau pedalaman atau pegunungan, mendapatkan pengetahuan fisik, teknis, dan sosial secara lokal;
(2)   Belajar secara cepat dan progresif: melalui eksplorasi yang terencana, pemakaian metode yang fleksibel, improvisasi, pengulangan, cek silang, tidak mengikuti program cetak biru tapi menyesuaikan proses belajar atau pemahaman;
(3)   Menyeimbangkan bias, khususnya bagi pengembangan wisata pedesaan, rileks dan tidak tergesa-gesa, mendengarkan dan bukan menggurui, penggalian topik, tidak memaksakan, mencari masyarakat yang lebih miskin, memahami prioritas dan pokok perhatian mereka;
(4)   Mencari keanekaragaman: dengan “maksimalisasi keanekaragaman dan kekayaan informasi” dan dengan pengambilan sampel non-statistik melainkan secara deskriptif – sehingga harus diperhatikan bahwa penjelasan deskriptif memerlukan catatan-catatan dan mencermati kontradiksi, anomali (variasi dari apa yang normal) dan perbedaan-perbedaan.
III. 2. 2. Prinsip-Prinsip Tambahan yang Ditekankan dalam PRA
(1)   Memfasilitasi penyelidikan, analisis, penyajian dan pemahaman oleh masyarakat sendiri, sehingga mereka dapat menyajikan, memiliki hasil dan mempelajarinya: handling over the stick, memberikan wewenang kepada masyarakat untuk memahami, merencanakan dan melakukan;
(2)   Kesadaran dan tanggungjawab diri yang kritis: fasilitator terus-menerus menguji tingkah-laku mereka dan mencoba melakukannya secara lebih baik, termasuk menerima kesalahan untuk melakukan yang lebih baik; menggunakan penilaian orang yang paling baik, yakni mereka yang dapat menerima tanggungjawab diri;
(3)   Saling berbagi informasi dan gagasan antar masyarakat, atau antar kelompok masyarakat; antara masyarakat dengan fasilitator; antar fasilitator yang berbeda, yang saling berbagi wilayah kegiatan, pelatihan dan pengalaman antar organisasi atau kelompok yang berbeda.

IV. Strategi, Pendekatan dan Metode

IV. 1. Strategi dan Pendekatan
Strategi yang biasa dipilih dalam proyek pembangunan dengan RRA dan PRA adalah strategi perencanaan yang lebih berorientasi pada karakteristik “dari bawah ke atas” atau bottom-up strategy. Strategi ini sesuai dengan pendekatan yang lazim ditentukan, yakni “berbasis komunitas” (community based approach) yang menilai tinggi partisipasi masyarakat dalam proses-proses perumusan masalah dan penyusunan perencanaan, dengan orang luar sebagai fasilitator sehingga pandangan dari dalam masyarakat sendiri (emic) merupakan pendekatan utama.
IV. 2. Metode dan Langkah-Langkah
Metode dan langkah-langkah yang ditempuh, terutama dalam pengumpulan dan analisis data mengikuti metode-metode yang lazim dimanfaatkan dalam RRA dan PRA (Chambers 1996: 36-39), antara lain:
(1)               Pengumpulan sumber sekunder, berupa berkas, laporan, peta, foto, artikel, buku, catatan resmi;
(2)               Mewawancarai informan kunci, untuk mengetahui secara mendalam mengenai persoalan dan masalah dalam masyarakat;
(3)               Melakukan wawancara semi-terstruktur, memperoleh checklist yang terbuka dan, mungkin, unpredictable;
(4)               Melakukan pertemuan dan wawancara dengan berbagai kelompok dan jenis serta kepentingan;
(5)               Menjadikan masyarakat sebagai pengamat, seperti kelompok wanita, kelompok miskin, guru, sukarelawan, pelajar, petani, pedagang dan tokoh masyarakat, untuk melakukan pengamatan, wawancara dengan penduduk, menganalisis data dan menyajikan hasilnya;
(6)               Membuat model dan peta secara partisipatif, bersama masyarakat, dengan menggunakan tanah, lantai, kertas: peta sosial, kependudukan, kesehatan, sumber daya alam, peta pertanian, peta wisata, desa tematik, dsb;
(7)               Transect walks: berjalan-jalan bersama informan secara sistematis melewati suatu area, mengamati, menanyakan, mendengarkan, mendiskusikan, mengidentifikasi zona yang berbeda, teknologi atau kerajinan lokal, mengenalkan teknologi; menemukan masalah, peluang dan pemecahan; membuat peta sumberdaya dan penemuan-penemuan;
(8)               Lintasan waktu: kronologi kejadian, daftar kejadian utama yang diingat;
(9)               Analisis kecenderungan: pertimbangan masyarakat pada waktu yang lalu tentang bagaimana hal-hal yang dekat dengan mereka berubah, sejarah ekologis, relokasi, pola dan perubahan kegiatan kerja; perubahan kebiasaan, perubahan dan kecenderungan penduduk, migrasi, penggunaan BBM, pendidikan, kesehatan, praktik kredit, sebab-sebab perubahan dan kecenderungan;
(10) Ethnobiographies: sejarah lokal tentang kegiatan penting seperti  perubahan peruntukan lahan, menjalankan pekerjaan sebagai pedagang, petani, buruh, pembuat kerajinan, dst.;
(11)           Membuat diagram musiman: musim utama,  musim wisata, peak season, musim panen, musim sepi, dll.;
(12)           Analisis matapencaharian: stabilitas, krisis dan penanggulang-annya, pendapatan, pengeluaran, kredit dan hutang, kegiatan ganda, dll.;
(13)           Membuat diagram secara partisipatif: metode untuk identifikasi  individu, kelompok dan lembaga penting di dalam dan bagi komunitas, serta hubungan mereka;
(14)           Tingkat kesejahteraan: identifikasi kelompok rumahtangga menurut kesejahteraan dan kesehatan, termasuk yang paling miskin dan paling buruk;
(15)           Analisis perbedaan: melalui gender, kelompok sosial, kesejahteraan, kemiskinan, pekerjaan, usia; identifikasi perbedaan antar kelompok, masalah dan pilihan mereka: perbandingan kontras antar keluarga, suatu keluarga tentang keluarga lain yang berbeda, dan sebaliknya;
(16)           Estimasi dan kuantifikasi, dapat menggunakan ukuran lokal;
(17)           Penyelidikan kunci: dengan pertanyaan langsung ke masalah kunci, misalnya “Apa yang anda lakukan ketika tidak berdagang?” “Bagaimana cara Anda menawarkan dagangan Anda?” “Bagaimana kalau lokasi berdagang dipindah? Dsb.;
(18)           Menyusun cerita, studi kasus dan profil;
(19)           Menyusun tim: gabungan antara orang luar (peneliti, konsultan, pemberdaya, pendamping, dsb.) dan masyarakat atau stakeholder;
(20)           Analisis dan penyajian: peta, model, diagram, penemuan yang disajikan oleh warga atau warga bersama orang luar, yang diuji, dikoreksi dan didiskusikan;
(21)           Perencanaan partisipatif, pembuatan anggaran dan pemantauan: warga menyiapkan rencana (jika mungkin sampai pada anggaran, jadual dan pemantauan perkembangannya);
(22)           Kuesioner sederhana pada akhir proses, dirancang untuk pengisian tabel untuk laporan atau yang akan dibutuhkan kemudian;
(23)           Laporan tertulis oleh fasilitator dan/atau bersama warga, segera setelah kegiatan RRA atau PRA.***




Daftar Pustaka

Chambers, Robert. 1996. PRA: Memahami Desa Secara Partisipatif. Yogyakarta: Kanisius & Oxfam.

________. 1983/1987. Pembangunan Desa: Mulai dari Belakang. Jakarta: LP3ES.

Driyamedia untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara. 1996. Berbuat Bersama Berperan Setara. Acuan Penerapan Participatory Rural Appraisal. Bandung: Studio Driya Media.

Kistanto, Nurdien H. 1997a. “Menuju Paradigma Penelitian Sosial yang Partisipatif.” PRISMA No. 1, Januari, hal. 84-87.

________. 1997b. “Dari ‘Memahami’ ke ‘Memberdayakan.’” Suara Merdeka, Senin, 10 Maret/VII.

LPPSP. 2000. Proyek Pembentukan dan Pemantapan Kelompok PSBK (Pengelolaan Sumberdaya Berbasis Komunitas), Laporan PRA. Semarang: Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumberdaya Pembangunan (LPPSP).

Mubyarto, Loekman Soetrisno, Michael Dove. 1984. Nelayan dan Kemiskinan. Studi Ekonomi Antropologi di Dua Desa Pantai. Jakarta: CV Rajawali.

Poerbo, Hasan, Fred Carden, William Found and Louise Grenier. Eds. 1995. Working with People. Indonesian Experiences with Community-Based Development. Toronto: Faculty of Environmental Studies, York University; Bandung: Centre for Environmental Studies, Institute Technology of Bandung.

Sanoff, Henry. 2000. Community Participation Methods in Design and Planning. New York: John Wiley & Sons.

Sarman, Mukhtar. 1997. “Kemiskinan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat: Pelajaran dari Program IDT.” PRISMA No. 1, hal. 33-42.

Schubeler, Peter. 1996. Participation and Partnership in Urban Infrastructure Management. Washington, DC: Urban Management Programme, The World Bank.

Yeung, Y. M. and T. G. McGee. Eds. 1986. Community Participation in Delivering Urban Services in Asia. Ottawa, Canada: International Development Research Centre.


Semarang, Selasa, 6 Mei 2003
Nurdien H. Kistanto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar