Kamis, 14 Januari 2010

Deskripsi Pesona Budaya Jawa Tengah

Deskripsi
Pesona Budaya Jawa Tengah

1. Taman Nasional Karimunjawa, Kabupaten Jepara
2. Segara Anakan, Kabupaten Cilacap
3. Dieng Plateau, Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara
4. Situs Sangiran, Kabupaten Sragen
5. Pasar Hewan, Pasar Pon, Kabupaten Semarang
6. Baturraden, Kabupaten Banyumas
7. Alas Roban, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang
8. Komunitas Kauman, Semarang
9. Pelabuhan Pendaratan Ikan, Kota Tegal
10. Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri

1. Taman Nasional Karimunjawa, Kabupaten Jepara
Taman Nasional Laut Karimunjawa meliputi gugusan Kepulauan Karimunjawa yang terdiri dari 27 pulau yang dikenal dengan Oasis of Java karena keindahan dan keaslian lingkungan alamnya. Kepulauan Karimunjawa terletak di Laut Jawa sekitar 83 km di sebelah utara barat laut pantai Jepara dengan luas 111.625 ha, terdiri dari 104.592 ha perairan dan 7.033 ha daratan. Kapulauan ini memiliki beberapa ekosistem utama, yakni ekosistem pelagik laut, ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun (seagrass), ekosistem hutan bakau (mangrove), ekosistem hutan pantai dan ekosistem hutan hujan dataran rendah.
Kekayaan flora yang telah terindentifikasi di kepulauan ini meliputi bakau (mangrove) yang terdiri dari Bruguiera dan Rhizophora, jambon (Acmena acuminatissima), gondorio (Bouea macrophylla), uyahuyahan (Procris penduculata), dan satu jenis tumbuhan endemik dewandaru (Cristocalyx macrophylla) yang mengandung mitos tersendiri. Fauna darat di kepulauan ini meliputi rusa (Cervus timorensis), trenggiling (Manis javanicus), landak (Hystrix brachyura), ular edor (Calloselasma rhodostoma), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), bangau abu-abu (Ardea cinera), elang laut (Heliaetus leucogaster), dara laut (Sterna sp), dan wedi-wedi (Ducula rosacaeae). Fauna laut meliputi 33 genera dari 12 suku karang batu; spons dan karangmerah (Tubipora musica), 242 jenis ikan hias; kemudian penyu sisik (Eretmochelys umbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas).
Para pengunjung dapat memancing, menyelam, menikmati keindahan alam, dan bermalam di Pulau Menyawakan yang menyediakan Kura Kura Resort atau di Pulau Karimunjawa di Hotel Kura-Kura, sejumlah homestay dan wisma pemerintah daerah (NHK).

2. Segara Anakan, Kabupaten Cilacap
Di sebelah utara Pulau Nusakambangan, Cilacap, terhampar Segara Anakan dan pulau-pulau kecil yang bersambung dengan daerah estuari, rawa dan hutan bakau di pantai selatan Cilacap. Perairan Segara Anakan merupakan bagian Samudera Hindia dengan muara-muara sungai dan hutan payau Cilacap dan Ciamis, sehingga kawasan ini mengandung aneka ragam ekosistem dan sumber daya hayati. Di perairan Segara Anakan, selain terdapat ribuan jenis biota laut, hidup satwa langka, yaitu lumba-lumba khas wersut atau pesut (Orcaella, sp), kerabat dekat pesut Mahakam dan dolfin Irrawady Myanmar (NHK).

3. Dieng Plateau, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara
Kawasan Dieng Plateau terbentang melintasi batas antara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Inilah kawasan tanah tinggi terluas di tanah Jawa yang terbentang pada 2.093 meter di atas permukaan laut dengan temperatur rata-rata 15 derajat Celcius. Banjarnegara meliput bagian dari plateau yang lebih luas tapi jalan menuju plateau lebih mudah dicapai melalui kota Wonosobo, yang berjarak 26 km. Pada plateau tersebut terdapat kelompok Candi Hindu “Pandawa”, danau-danau, kawah-kawah aktif, sumber Sungai Serayu, dan gua-gua (NHK).

4. Situs Sangiran, Kabupaten Sragen
Situs Sangiran adalah contoh gambaran kehidupan manusia purba dengan luas kawasan mencapai 56 km2, yang meliputi 3 Kecamatan (Gemolong, Kalijambe, Plupuh) di Sragen dan 1 Kecamatan (Gondangrejo) di Karanganyar. Sangiran merupakan situs terpenting bagi ilmu pengetahuan, terutama arkeologi, palaeoantropologi, antropologi ragawi, biologi, dan geologi, yang dapat dimanfaatkan untuk mempelajari kehidupan manusia purba. Situs ini lengkap dengan fosil-fosil manusia dan hasil-hasil budayanya, fosil-fosil flora dan fauna, beserta gambaran stratigrafinya. Di Sangiran mengalir Sungai Cemoro yang indah dan bermuara di Bengawan Solo. Sungai Cemoro merupakan sungai antecedent yang membelah zona inti Sangiran sehingga struktur cekungan Sangiran dan lapisan tanah dapat dipelajari dengan seksama. Sampai saat ini Situs Sangiran masih menyimpan misteri, meskipun sudah ditemukan 50 fosil Homo Erectus. Pada tanggal 5 Desember 1996, Situs Sangiran ditetapkan oleh Komite World Heritage UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia No. 593, dengan nama Sangiran Early Man Site (NHK).

5. Pasar Hewan, Pasar Pon, Ambarawa, Kabupaten Semarang
Pasar Hewan ini terletak di Desa Ngrengas, Ambarawa, Kabupaten Semarang dan disebut Pasar Pon karena pasar ini hanya buka pada hari pasaran Pon, menurut penanggalan Jawa. Pada tiap Pon para pemilik, belantik, makelar atau perantara, dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi rajakaya (hewan berkaki empat) dan sato iwen (ternak unggas). Para pengunjung datang dari berbagai kota dan desa di Jawa Tengah. Warung makanan, minuman, jamu dan obat, tukang pijit, dan tukang cukur pun tersedia di pasar tradisional ini (NHK).

6. Baturraden, Kabupaten Banyumas
Baturraden adalah kawasan peristirahatan pegunungan yang berjarak 15 km dari kota Purwokerto ke arah utara. Kawasan ini terletak di lereng Gunung Slamet pada ketinggian 640 meter di atas permukaan laut. Dengan pemandangan alam yang mempesonakan, berupa rerimbunan pohon di kaki gunung dan suara gemericik air mengalir, para pengunjung dapat mandi di sumber air panas Pancuran Pitu and Pancuran Telu yang dikelilingi hawa sejuk dan udara segar (NHK).

7. Alas Roban, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang
Nama Alas Roban diambil dari bahasa Jawa yang berarti “hutan yang angker atau berbahaya”. Disebut demikian karena pada jaman dahulu kawasan hutan yang membentang di kiri-kanan jalan raya Semarang-Jakarta dari Gringsing di Kabupaten Kendal sampai di Tulis, Kabupaten Batang ini tidak aman untuk dilewati. Konon dahulu Alas Roban menjadi lokasi beroperasi para penjahat seperti rampok, kecu dan begal, serta dihuni oleh makhluk-makhluk halus seperti setan dan jin yang ganas, sehingga dikenal dengan sebutan “setan alas roban.” Kini lintasan Alas Roban merupakan lintasan sosial-ekonomi yang amat penting yang menghubungkan kegiatan sosial, budaya dan ekonomi Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta (NHK).

8. Komunitas Kauman, Semarang
Di wilayah pesisir utara Jawa permukiman muslim Kauman berawal. Di samping terstruktur dalam kota tradisional Jawa, Kampung Kauman merupakan tipologi perkampungan komunitas muslim, santri, di pusat kota dan berlokasi di belakang Masjid Besar atau Masjid Jami’. Dengan berjalannya waktu, komunitas Kauman Semarang mengalami transisi: yang semula merupakan pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan Islam, kini juga menjadi pusat kegiatan bisnis. Para anggota keturunan komunitas Kauman Semarang sekarang juga bermukim di lokasi-lokasi lain dengan berbagai kegiatan dan matapencaharian (NHK).

9. Pelabuhan Tegal
Pelabuhan Tegal yang dikelola oleh PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III Cabang Tegal terletak di bagian utara Kota Tegal. Di pelabuhan ini berlabuh ratusan kapal yang mengangkut barang-barang komoditas dan sebagian di antaranya mendaratkan berbagai jenis ikan besar dan kecil yang segera ditumpahkan dan diperdagangkan di Tempat Pelelangan Ikan. Di Kota Bahari itu denyut kehidupan sumber daya alam kelautan dan pesisir sangat mencolok hingga di sore hari. Perhatikan moto yang terpampang di pintu masuk pelabuhan itu: Laut adalah sumber kehidupan. Jagalah laut dari pencemaran (NHK).

10. Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri
Gajah Mungkur adalah waduk yang luasnya 83 ha dan terletak di sekitar 35 km ke arah selatan dari kota Sala dan 2.5 km ke arah selatan dari kota Wonogiri. Waduk ini dibangun untuk mencegah banjir dan untuk irigasi persawahan. Di waduk ini para pengunjung dapat memancing dan berolah raga air seperti jetski dan dayung. Tetapi tak jarang waduk ini juga dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan lain yang mendatangkan pengunjung dari luar daerah (NHK).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar