Rabu, 13 Januari 2010

Prospek Sosial Budaya Masyarakat Karimunjawa dengan Participatory Engineering

Pada abad ke 16, Jepara sudah dikenal sebagai wilayah pesisir yang mengesankan, sampai-sampai penulis Suma Oriental, Tome Pires, memujinya sebagai tempat labuh terbaik di antara tempat-tempat lain yang dikunjunginya, menjadi tempat mampir bagi mereka yang berkunjung ke Jawa dan Maluku. Pada abad ke 18 (1726) ahli sejarah Domine Francois Valentijn bahkan menuturkan bahwa Jepara menjadi pelabuhan bagi para pedagang kecil, sebagai bandar di pesisir pantai (Kompas 2003: 199-201). Belum lagi jika kita cermati kegiatan-kegiatan sosial, politik, pemerintahan, kebudayaan dan kesenian yang kesohor Ratu Kalinyamat dan RA Kartini.
Sejak berabad-abad pesisir Jepara menjadi ajang pergaulan, pertemuan dan perdagangan intra dan antar bangsa. Bahkan sampai sekarang aktivitas perdagangan berskala lokal, nasional dan internasional menjadi penyangga utama struktur perekonomian, yang membawa konsekuensi pertemuan antar nilai-nilai sosial budaya, klasik dan kontemporer, terutama melalui penyelenggaraan usaha-usaha produksi dan perdagangan (industri) kerajinan. Sekitar seperlima dari total nilai perekonomian berasal dari industri & bisnis, produksi & perdagangan (Kompas 2003: 199-201).
Secara historis pesisir Jepara dan sekitarnya mengalami pergaulan sosial budaya global berabad-abad.
Kiranya merupakan tuntutan wajar jika di Jepara terselenggara kegiatan jaringan pelabuhan berskala nasional dan internasional, dan tidak hanya pelabuhan untuk nelayan dan penyeberangan Jepara-Karimunjawa. Lebih-lebih jika Karimunjawa hendak dikembangkan dengan transport Kapal Cepat, yang membawa prospek-prospek sosial budaya, perekonomian dan pariwisata.
II
Secara sosiologis masyarakat Kepulauan Karimunjawa heterogin, terbentuk oleh kebutuhan akan pengembangan kehidupan dan hajat hidup sosial ekonomi. Di sana berkembang pergaulan, interaksi dan proses-proses sosial masyarakat Jawa, Bugis dan Madura, yang membawa nilai-nilai sosial-budaya kelompok masyarakatnya. Pada masa-masa yang akan datang, kelompok-kelompok masyarakat tersebut akan mengalami interaksi dan proses-proses sosial dengan bangsa-bangsa pendatang dalam kategori pengunjung dan investor.
Oleh sebab itu, prospek sosio-demografis dan sosio-budaya masyarakat adalah berkembangnya pluralisme nilai-nilai yang berbasis kelompok, etnik, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam situasi demikian, prospek sosial budaya yang simpatik dan bijaksana, beradab dan berbudaya, menuntut terselenggaranya proses-proses yang berbasis kebersamaan dan partisipasi.
Dalam masyarakat heterogin, dengan nilai-nilai sosio-budaya plural, interaksi dan proses-proses sosial yang saling berkaitan diharapkan dapat mendorong berkembangnya antara lain:
(1) pengertian dan pemahaman akan pentingnya kebersamaan antar kelompok dan kelompok kepentingan (stakeholders);
(2) dukungan suatu sistem sosial dan infrastruktur yang menimbulkan rasa aman lahir dan batin;
(3) akomodasi kepentingan dan hajat hidup seluruh kelompok yang berbeda-beda, terutama misalnya kelompok-kelompok berbasis ekonomi dan mata-pencaharian (livelihood);
(4) rasa aman lahir dan batin yang memberikan ketenangan dan kenyamanan kelompok-kelompok kepentingan (stakeholders) untuk menyelenggarakan fungsi-fungsi sosial-budaya dan ekonomi, terutama yang berbasis pekerjaan dan matapencaharian.
III
Interaksi dan proses-proses sosial yang berorientasi mewujudkan prospek sosial-budaya-ekonomi yang adil, beradab dan demokratis, menuntut institusi perubahan untuk memberikan tempat dan peluang kepada masyarakat plural untuk bersama-sama melakukan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengawasan dalam proses-proses perubahan (pembangunan). Partisipasi dan community based change (perubahan berbasis masyarakat) merupakan kunci-kunci penting untuk membuka jendela dan pintu perubahan.
Dengan partisipasi dan community based change, yang merupakan metode (bahkan ideologi) untuk mewujudkan masyarakat pasca-moderen (postmodern society), kekuasaan dan kewenangan terhadap perubahan yang di masa lalu mengalami social engineering semata-mata oleh institusi perubahan, kini (kekuasaan dan kewenangan atas perubahan) harus dibagi-bagikan melalui participatory engineering – yang diselenggarakan bersama masyarakat plural.
Dengan participatory engineering, masyarakat plural akan merasa ikut memiliki dan ikut bertanggung-jawab dalam mengaktualisasikan dan merealisasikan prospek kemajuan sosial-budaya dan ekonomi, bagi kesejahteraan mereka*** (Semarang, 5 April 2004 - NHK).
Pengaruh interaksi thd perkemb masy
Individu: Seseorang yang frekuensi interaksinya kurang menyebabkan kesulitan pergaulan manusia tsb dlm masy.
Masyarakat: kurangnya interaksi suatu masy dg masy lain menyebabkan lambannya perkemb masy tsb.
Pembangunan sarana komunikasi dan transportasi di suatu daerah berdampak meningkatkan frekuensi interaksi masy tsb dg masy yg lain. Dg tambahan interaksi tsb perkemb masy dpt dipacu.
Daftar Pustaka

Chambers, Robert. 1996. PRA – Participatory Rural Appraisal – Memahami Desa Secara Partisipatif. Yogyakarta: Yayasan Mitra Tani, Kanisius, Oxfam.

Ibrahim, Jabal Tarik. 2002. Sosiologi Pedesaan. Malang: UMM.

Juliantara, Dadang. 2003. Pembaruan Desa – Bertumpu pada Yang Terbawah. Yogyakarta: Leppera.

Kompas. 2003. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Jilid 3. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Kompas. 2004. “Karimunjawa, Seribu Pesona Kepulauan Tropis.” Jawa Tengah. Jum’at, 2 April: G.

Yuliati, Yayuk dan Mangku Poernomo. 2003. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Leppera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar